(NEW YORK-Agritechnews.id) Harga grosir jus jeruk melonjak ke rekor tertinggi Rabu (1/11), didorong oleh rendahnya persediaan dan gagal panen di Amerika Serikat baru-baru ini.
Bursa komoditas yang terdaftar di Chicago untuk konsentrat jus jeruk beku (FOJC) naik menjadi 4,3195 dolar AS per pon (sekitar 450 gram).
Faktor utama di balik melonjaknya harga adalah menurunnya persediaan, yang berkurang hampir setengahnya sejak periode yang sama tahun lalu, dan hanya seperempat dari tingkat persediaan pada tahun 2019.
Hal ini terjadi setelah gagal panen tahun 2022-2023, yang merupakan jumlah terendah dalam 56 tahun terakhir menurut data Departemen Pertanian AS (USDA). Kegagalan panen disebabkan oleh Huanglongbing (HLB) atau penyakit naga kuning. Infeksi yang tidak dapat disembuhkan ini menyebabkan jeruk menjadi hijau dan pahit, dan sebagian besar pohon yang terkena dampak akan mati dalam beberapa tahun. Demikian penjelasan USDA.
Penyakit ini ditularkan melalui psyllid, serangga kecil yang membawa bakteri dengan memakan getah jeruk. Penyebab lain lainnya yang berpengaruh terhadap persediaan adalah badai yang terjadi berulang kali pada akhir tahun 2022 yang melanda Florida, negara bagian AS yang memproduksi jus jeruk terbesar.
Namun, harga tertinggi pada hari rabu dapat menandai awal dari perubahan arah pasar, menurut Shawn Hackett dari Hackett Financial Advisors.
Hackett menunjukkan bahwa, setelah mencatat rekor tertinggi baru sejak jus jeruk masuk dalam bursa komoditas berjangka pada tahun 1966, harga turun hampir 5 persen pada paruh kedua sesi (-4,63 persen).
“Saya yakin dalam 12 bulan ke depan, harga akan turun kembali, mungkin 50 persen dari harga saat ini, atau bahkan lebih,” prediksi Hackett.
Faktor pertama yang mampu menurunkan harga adalah produksi jeruk Valencia, varietas yang paling umum digunakan untuk dibuat jus, diperkirakan akan meningkat sebesar 23 persen pada musim 2023-2024, menurut USDA.
“Dengan meredanya musim badai meski belum berakhir, sebagian besar hutan di Florida telah terhindar tahun ini,” ujar Hackett.
Faktor terakhir yang mungkin mempengaruhi harga adalah perlambatan permintaan. USDA mengatakan konsumsi jus jeruk di AS telah berkurang lebih dari setengahnya selama 20 tahun terakhir.
Sumber : AFP
