Ekspor Serealia Australia Mulai Mengalir ke Tiongkok


(Sydney-Agritechnews.id) Tiga tahun setelah tarif tinggi Tiongkok menghentikan impor jelai Australia karena ketegangan politik  antara kedua negara meningkat, kini ekspor serealia termasuk  gandum kembali mengalir.

Jelai (Hordium vulgare) mungkin merupakan nama yang masih asing. Namun keberadaannya disebut bisa menggantikan beras. Jelai atau dalam bahasa Inggris disebut barley adalah sejenis serealia dan merupakan anggota suku padi-padian (Poaceae).

Jelai tidak hanya digunakan untuk membuat bir tetapi juga untuk memberi makan babi, dan Tiongkok merupakan pasar utama Australia, sekitar 50 persen ekspor jelai dari Australia.

“Tiongkok mengimpor 314.000 ton jelai Australia senilai 139 juta dolar Australia  sejak pemerintah menghapuskan tarif 80,5 persen pada bulan Agustus,” demikian keterangan pemerintah Australia, mengutip data resmi Tiongkok.

Dengan dimulainya kembali perdagangan tersebut merupakan harapan baru bagi petani Australia, dimana pasar jelai senilai hampir satu miliar dolar Australia menguap pada tahun 2020.

“Dalam dua bulan setelah pembukaan kembali pasar, marketing dan trading mengirimkan dua kapal jelai ke Tiongkok,”  ujar CBH Group, sebuah koperasi yang beranggotakan lebih dari 3.500 petani biji-bijian Australia Barat, dalam laporan tahunan mereka.

Ketegangan antar negara mulai meningkat pada tahun 2018 ketika Australia mengecualikan raksasa telekomunikasi Tiongkok Huawei dari jaringan 5G-nya.

Kemudian pada tahun 2020, Australia menyerukan penyelidikan internasional mengenai asal usul Covid-19 – sebuah tindakan yang dianggap Tiongkok bermotif politik karena tindakan tersebut berasal dari mitra dekat Australia, Amerika Serikat.

Sebagai respon, Beijing mengenakan tarif tinggi terhadap ekspor utama Australia, termasuk jelai, daging sapi, dan anggur, serta menghentikan impor batu bara.

Perlambatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok telah mendorong Beijing untuk menghidupkan kembali hubungan dengan mitra dagangnya.

Sementara itu, Australia mencari dan menemukan pasar baru untuk menjual hasil panennya. Australia merupakan produsen biji-bijian terbesar ketiga di dunia.

“Hal ini menyebabkan kami melakukan perubahan, jadi kami menemukan pasar baru, seperti Meksiko. Kami berhasil menurunkan tarif, yang sebelumnya lebih dari 100 persen,” ujar Sean Cole, pejabat manajer umum asosiasi perdagangan GrainGrowers, kepada AFP.

“Dengan hengkangnya Tiongkok, Australia benar-benar terpaksa kembali ke pelanggan tradisional di pasar pakan, terutama Timur Tengah dan Arab Saudi, tempat kami berada selama lebih dari 20 tahun,” sambungnya.

Menurut data dari Biro Ekonomi dan Ilmu Pengetahuan Pertanian dan Sumber Daya Australia (ABARES), antara Juni 2022 dan Juni 2023, Arab Saudi menjadi importir utama jelai Australia.

Ketika El Nino – fenomena siklus cuaca yang menyebabkan suhu global lebih tinggi – kembali terjadi di Pasifik, ABARES memperkirakan produksi jelai akan turun 24 persen menjadi 10,8 juta ton pada panen tahun 2023-2024.

“Pembukaan kembali pasar Tiongkok terjadi di  saat yang tepat,” ujar Sean Cole. “Banyak jelai kami yang diklasifikasikan sebagai pakan, namun masih cocok untuk pembuatan bir di Tiongkok. Mereka menggunakan proses yang sedikit berbeda, dan pada dasarnya ini berarti kami bisa mendapatkan harga premium untuk lebih banyak jelai pakan kami,” sambungnya.

“Rata-rata jelai yang diekspor ke Tiongkok dijual dengan harga “sekitar 38 hingga 40 dolar per ton antara sekarang dan sejak tarif dicabut. Itu berarti  ada nilai tambahan 400 juta dolar untuk panen jelai Australia tahun depan, bahkan dengan harga yang lebih kecil. panen,” tandas Cole.

Sumber AFP