Kecerdasan Buatan  Hanya Berfungsi Baik dengan Campur Tangan Manusia


(Dubai-Agritechnews.id) Berbicara pada pertemuan puncak kecerdasan buatan global di bulan November, Raja Inggris Charles menggambarkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence-AI) sebagai sesuatu yang tidak kalah pentingnya dengan penemuan listrik, pemisahan atom, penciptaan world wide web, atau bahkan pemanfaatan api.

Perkembangan teknologi AI yang pesat menawarkan potensi besar dalam menghasilkan jawaban terhadap tantangan-tantangan  yang paling mendesak, mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat dan cepat dibandingkan sebelumnya.

Meskipun AI mempunyai kemampuan untuk mengumpulkan sejumlah besar data hanya dengan mengklik satu tombol, manusia  harus tetap menyadari keterbatasan teknologi tersebut. Hal itu terutama dalam kasus permasalahan lingkungan hidup, dimana permasalahan dan solusinya rumit dan terus berkembang. Terdapat kebutuhan yang jelas akan keahlian dan kebijaksanaan manusia untuk memberikan informasi dan melengkapi sistem AI.

Model bahasa besar (LLM) yang ada saat ini, seperti GPT-4, tidak boleh dipandang sebagai solusi terbaik dalam penyelesaian masalah keberlanjutan. Hal ini karena sebagian besar model mengandalkan pengetahuan yang bersumber dari penelusuran web, bukan keahlian yang lebih andal dan akurat.

Misalnya, dalam kasus isu-isu seperti polusi plastik, negosiasi global dan penelitian baru menjadikan rekomendasi AI berpotensi ketinggalan jaman jika tidak dibarengi dengan keahlian manusia untuk memberikan konteks yang diperlukan.

Sistem AI sangat bergantung pada informasi terkodifikasi dari publikasi dan kumpulan data yang cenderung memprioritaskan perspektif top-down yang ramah mesin pencari dan memiliki bias yang kuat terhadap bahasa Inggris.

Akibatnya, sulit bagi AI untuk menggabungkan pengetahuan praktis dari pengalaman di lapangan. Manusia sangat penting dalam mendefinisikan pengetahuan “bottom-up” tentang apa yang benar-benar berhasil.

Misalnya, petani kecil di komunitas negara berkembang memiliki pemahaman yang signifikan tentang pertanian regeneratif, karena pengetahuan tersebut diturunkan dari generasi ke generasi. Namun, sebagian besar keahlian ini belum pernah dipublikasikan sehingga masih tidak dapat diakses oleh mesin pencari. Tanpa masukan dari mereka, AI akan selalu memihak pada pengetahuan teoretis yang dihasilkan di institusi akademis terpencil.

Keberagaman pemikiran juga merupakan tantangan besar yang harus dihadapi oleh sistem AI karena mereka terutama mengandalkan sumber-sumber berbahasa Inggris, dan memiliki bias terhadap sudut pandang barat.

Menurut beberapa pihak, lebih dari 95persen artikel di Web of Science ditulis dalam bahasa Inggris. Karena masyarakat barat kurang merasakan dampak perubahan iklim secara akut, pendekatan ini mengabaikan pengalaman dan pengetahuan mereka yang paling terkena dampak.

Kolaborator manusia dari berbagai latar belakang, khususnya masyarakat adat yang memiliki hubungan kuat dengan alam, sangat penting untuk menggabungkan beragam perspektif budaya dan keahlian lokal.

Menyatukan pengetahuan offline dengan data AI dengan cara ini sangat penting tidak hanya untuk menemukan solusi teoretis terbaik, namun juga untuk mendapatkan solusi praktis terbaik yang dapat berhasil diterapkan di dunia nyata.

Bekerja sama dengan Cox Enterprises, misalnya, Ubuntoo mengidentifikasi dan menjalin hubungan antara produsen kabel koaksial dan pendaur ulang, menciptakan robot  daur ulang untuk mengalihkan 25 juta pon kabel dari tempat pembuangan sampah setiap tahunnya.

Mondelez India memanfaatkan teknologi berbasis AI yang sama untuk mendaur ulang 600 ton sampah secara ekonomis, sehingga menghasilkan lapangan kerja dan pendapatan bagi pekerja sampah yang terpinggirkan.

Dengan menerapkan pengalaman analisis manusia, serta kemampuan AI yang luar biasa dalam bidang pemrosesan data, manusia  dapat menyelamatkan komoditas penting dalam upaya menyelamatkan planet ini. AI adalah sebuah akselerator menuju masa depan yang lebih ramah lingkungan, namun manusialah yang harus tetap memegang kendali.

Sumber Reuters


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *