(SEOUL, Agritechnews.id) Gelombang panas yang belum pernah terjadi sebelumnya di seluruh Korea Selatan telah meningkatkan harga kubis. Menurut data yang dirilis akhir pekan lalu, harga sayuran yang digunakan dalam hidangan nasional terkenal, kimchi, melonjak hampir 70 persen dibandingkan tahun lalu.
Harga satu kubis mencapai 9.337 won (107 ribu rupiah) per kilogram, naik 69,1 persen dibanding tahun lalu, menurut data yang dirilis oleh Korea Agro-Fisheries & Food Trade Corporation, Sabtu (29/9). Kubis adalah bahan utama kimchi, hidangan fermentasi pedas yang terkenal dan dimakan oleh banyak orang Korea setiap hari.
Para ahli mengatakan peningkatan suhu musim panas menyebabkan ketidakstabilan pasokan — terutama untuk kubis dataran tinggi. Tanaman itu tumbuh subur di iklim yang lebih sejuk.
“Selain itu, perubahan iklim telah mengubah pola munculnya penyakit tanah,” ujar Lee Young-gyu, seorang ahli virologi di National Institute of Crop Science.
“Misalnya, penyakit jamur yang ditularkan melalui tanah seperti busuk akar, yang menyebabkan layu pada kubis, semakin menyebar,” sambungnya kepada AFP.

Lee juga mengatakan ada laporan bahwa bibit mati karena panas ekstrem, atau terbakar oleh sinar matahari yang intens.
Bulan ini, Administrasi Pengembangan Pedesaan Korea Selatan mendirikan institut penelitian khusus untuk menangani ketidakstabilan pasokan kubis dataran tinggi.
Badan tersebut memperingatkan bahwa jika tidak ada langkah-langkah yang diambil untuk mengatasi perubahan iklim, area yang cocok untuk budidaya kubis musim panas dapat hilang pada tahun 2090.
Tahun ini, Korea Selatan mengalami suhu rata-rata musim panas tertinggi sejak pencatatan dimulai setengah abad yang lalu — hampir dua derajat lebih tinggi dari rata-rata sejarah, kata badan cuaca awal bulan ini.
Sumber: AFP