Apakah Bioplastik Solusi Ajaib Pengganti Plastik Berbahan Minyak Bumi?


PARIS – Alternatif bahan pengganti plastik berbasis petrokimia mulai berkembang. Penggunaan n bahan alami seperti daun pisang dan kulit tomat, terutama untuk kemasan makanan apakah akan menjadi solusi. Masih ada pertanyaan mengenai tingkat biodegradabilitasnya dan dampaknya terhadap lingkungan.

Apa itu Plastik Biosourced?

Plastik biosourced mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dengan memanfaatkan produk pertanian, seperti limbah tebu, jagung, atau pati gandum. Biasanya digunakan untuk kemasan makanan, plastik ini hanya mencakup kurang dari satu persen dari total produksi plastik dunia.

Laboratorium di seluruh dunia terus mengembangkan plastik baru berbahan alami, misalnya dari kulit tomat atau daun pisang.

Perusahaan kimia asal Prancis, Arkema, mempromosikan PBAT berbasis minyak jarak, yang digunakan dalam pembuatan sepatu olahraga dan interior mobil. Ada juga Bananatex, tekstil biodegradable dari daun pisang yang dikembangkan oleh merek asal Swiss bersama mitra dari Taiwan.

Namun, Christophe Doukhi de Boissoudy, presiden asosiasi biosourced compostables di Prancis, mengingatkan bahwa “biosourced tidak harus sepenuhnya” terdiri dari bahan alami. Di Eropa, persyaratan minimum saat ini adalah 50 persen, tetapi “akan meningkat menjadi 60 persen pada Januari 2025,” jelasnya.

Apa itu Bioplastik?

Istilah “bioplastik” bisa membingungkan karena memiliki dua makna: biosourced atau dapat dikompos. Definisinya bervariasi di berbagai negara. Namun, di Eropa, bioplastik didefinisikan sebagai polimer yang berasal dari bahan alami dan dapat terurai, baik di tanah maupun dalam fasilitas industri.

Tidak semua bioplastik dapat terurai sepenuhnya di alam. Misalnya, PLA (asam polilaktat) harus dikompos secara industri pada suhu 35 hingga 60 derajat Celsius. PLA, salah satu bioplastik paling populer untuk tekstil dan kemasan makanan, awalnya berbasis bahan fosil tetapi kini dibuat dari fermentasi biomassa tanaman seperti jagung, bit, atau tebu.

“Yang membuat kami khawatir adalah cepatnya perkembangan undang-undang di China untuk mengganti plastik berbahan minyak bumidengan PLA, sementara Eropa masih stagnan,” ujar Frederic Van Gansberghe, pendiri Futerro, perusahaan bioplastik asal Belgia, yang memiliki pabrik di China dan berencana membuka satu di Prancis pada  tahun 2026.

Bagaimana Dampaknya Terhadap Lingkungan?

Menurut “Atlas Plastik” dari Heinrich Boll Foundation, sebagian besar plastik biosourced tidak sepenuhnya dapat terurai atau dikompos, sehingga “hanya mengalihkan masalah, bukan menyelesaikannya”.

Nathalie Gontard, direktur penelitian di Institut Nasional Prancis untuk Pertanian, Pangan, dan Lingkungan, menyatakan bahwa plastik biosourced “tidak memberikan manfaat nyata” karena polimernya tidak terurai di alam, tetapi malah pecah menjadi mikroplastik dan nanoplastik.

“Yang penting adalah biodegradabilitas dalam kondisi alami,” ujarnya seraya  menambahkan bahwa definisi “biodegradable” masih kabur. Beberapa menganggapnya sebagai degradasi total dalam hitungan bulan atau tahun, sementara yang lain mengacu pada periode yang lebih panjang.

Keuntungan utama plastik biosourced adalah pengurangan emisi CO2 dalam industri plastik. Namun, para ahli tetap mengingatkan adanya risiko. OECD memperingatkan bahwa peningkatan kebutuhan lahan untuk menanam bahan baku plastik biosourced dapat menyebabkan perubahan penggunaan lahan atau deforestasi, yang justru bisa meningkatkan emisi CO2.

Pauline Debrabandere dari organisasi Zero Waste menyampaikan kekhawatirannya: “Mengembangkan bioplastik menempatkan beban produksi pada lahan pertanian, yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan pangan.”

Sumber: AFP