Konsumsi Daging Ayam Bantu Mencegah Perubahan Iklim?


(JOSSELIN-Agritechnews.id) Stephane Dahirel tidak benar-benar mengatakan makan ayam akan menyelamatkan planet ini, tapi itulah yang dia pikirkan saat dia membuka pintu gudang peternakan intensifnya di Brittany, Prancis Barat.

30.000 ekor ayam di kandang miliknya akan berukuran tiga kali lipat dalam waktu kurang dari sebulan dan emisi karbonnya rendah. “Tujuannya adalah menghasilkan daging terbaik, dalam waktu sesingkat mungkin, dengan jumlah pakan sesedikit mungkin,” ujar Dahirel.

2 juta ayam dihasilkan setiap tahunnya dari kandang Dahirel. Ayam tersebut sebagian besar dibudidayakan untuk mensuplai restaurant cepat saji McDonald’s berupa produk olahan nugget. Rata-rata ayam produksi kandangnya mencapai berat potong dalam waktu kurang dari separuh waktu yang dibutuhkan di peternakan tradisional. Umur 20 hari, bobot ayam mencapai 1 kilogram dan ketika dipanen umur 45 hari, bobot ayam akan mencapai lebih dari tiga kilogram.

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), ayam memiliki jejak karbon terkecil dibandingkan daging lainnya, lebih sedikit dari dua kilogram CO2 yang dihasilkan untuk satu kilogram daging babi, dan 30 kali lebih sedikit dibandingkan daging sapi.

Dari perspektif ekonomi dan ekologi, Dahirel menegaskan bahwa peternakan intensif miliknya merupakan “sistem yang paling efisien dan rasional” untuk memproduksi daging. Meski peternakan ayamnya mempunyai emisi yang rendah, menurutnya kelemahan terbesar  adalah memproduksi biji-bijian untuk pakan ayam membutuhkan lahan yang luas, pupuk kimia dan pestisida.

Semua berdampak pada keanekaragaman hayati dan kualitas air. Memang benar pertumbuhan ganggang hijau di pantai-pantai di daerah asal Dahirel, Brittany — sebagian disebabkan oleh produksi daging babi, unggas, dan susu yang intensif — telah menyebabkan kerusakan lingkungan. Peternakan intensif juga berdampak pada animal wellfare. Dahirel memelihara 20 ekor ayam per meter persegi, yang dipelihara di atas para-para dimana kotorannya diserap oleh serutan kayu dan sekam soba.

karena rumah potong ayam memerlukan produk yang seragam, ayam yang terkena penyakit atau tidak normal akan dimusnahkan  untuk menghindari penularan lebih lanjut. “Tentu saja mereka bukan robot, tapi kami mencari homogenitas,”  ujar Dahirel.

Menurut pendapat para ahli ayam mungkin merupakan protein hewani yang optimal untuk emisi karbon, namun belum tentu bagi alam. “Jika kita hanya berpikir tentang emisi CO2 per kilo daging, kita semua akan mulai makan ayam. Namun berpikir bahwa itu merupaka solusi adalah kesalahan besar,” ujar Pierre-Marie Aubert, dari Institute for Sustainable Development and International Relations (IDDRI) di Prancis.

“Jika Anda hanya memikirkan karbon, banyak hal yang akan menjadi bumerang bagi kita dalam jangka panjang,”  sambungnya.

Aubert mengatakan terjadi peningkatan konsumsi ayam dalam beberapa tahun terakhir, sehingga ayam menjadi salah satu daging yang paling banyak dikonsumsi di dunia. Ayam lebih banyak dikonsumsi karena tak satu agamapun melarang seperti halnya daging babi dan sapi. “Dunia kini begitu terfokus pada emisi metana dari hewan ruminansia seperti sapi dan domba sehingga banyak orang berpikir mengganti daging sapi dengan ayam sudah cukup, namun sebenarnya, kita perlu mengurangi seluruh konsumsi daging,”  ujar Lucile Rogissart, dari Institute for Climate Economics ( I4CE).

Sumber : AFP