Boron, Unsur Hara Penting bagi Kelapa Sawit


(Jakarta-Agritechnews.id) Seperti seorang anak yang membutuhkan nutrisi di masa pertumbuhannya, tanaman tentunya sangat membutuhkan asupan makanan dengan kandungan nutrisi yang cukup. Kelapa sawit membutuhkan unsur hara yang cukup untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangannya.

Secara umum unsur hara dapat dibagi menjadi dua, yakni unsur hara makro dan unsur hara mikro. Unsur hara makro adalah unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang banyak. Contohnya adalah Nitrogen, Fosfor, Kalium dan Magnesium.

Sebaliknya unsur hara mikro merupakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang sedikit, contohnya Boron, Natrium, Zinc dan Fe. Ibarat masakan tanpa garam maka rasanya menjadi hambar, begitu juga jika garam dalam masakan terlalu banyak maka masakannya menjadi asin dan tidak enak dimakan. Begitulah unsur hara mikro dianalogikan, dibutuhkan dalam jumlah kecil tapi perannya sangat penting.

Unsur hara boron merupakan unsur hara non-metal yang sangat dibutuhkan tanaman kelapa sawit salah satunya pada saat fase pembungaan dan pembentukan buah. Selain itu, boron juga berperan penting untuk membantu perkembangan sel baru, mengatur keseimbangan nutrisi tanaman dan meningkatkan laju fotosintesis.

Defisiensi boron umumnya sering terjadi pada tanaman kelapa sawit yang dibudidayakan pada areal dengan tanah berpasir dan tanah gambut. Kekurangan boron pada masa pembungaan dan pembentukan buah akan meningkatkan aktivitas unsur enzim bernama “AIA-Oxidase” yang dapat mengurangi kadar asam indol astetat yang merupakan hormon yang membantu tanaman tumbuh dengan baik.

Apabila hal ini terjadi, akibatnya akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan buah serta dapat menurunkan kualitas buah. Selain itu kekurangan boron pada kelapa sawit juga dapat menyebabkan luas daun mengecil sehingga fotosintesis menjadi tidak optimal. Lalu bagaimana gejala defisiensi boron pada tanaman kelapa sawit.

Seringkali kita melihat daun keriting dan pelepah yang memendek pada tanaman kelapa sawit. Hal ini merupakan gejala kekurangan unsur hara boron dan pada umumnya terjadi pada fase tanaman belum menghasilkan (TBM) ataupun pada tanaman kelapa sawit yang masih muda, yakni di umur 4-8 tahun. Walaupun begitu, tak jarang juga gejala ini muncul pada tanaman remaja dan dewasa.

Sumber boron alami adalah bebatuan dan mineral borate, yang terbentuk dari endapan gas vulkanik. Boron juga bisa berasal dari pelapukan bahan organik, air irigasi, pupuk, atau hasil kegiatan industri seperti residu bahan bakar, penambangan dan lain-lain.

Boron sendiri merupakan unsur hara yang mudah tercuci hilang di tanah. Oleh karena itu, pemupukan biasanya dilakukan setiap tahun. Secara umum, terdapat dua jenis pupuk sebagai sumber boron, yakni dalam bentuk larutan maupun padatan seperti pupuk borax, dan bijih mineral (bebatuan yang mengandung mineral) yang dihaluskan.

Pupuk borax yang merupakan campuran boron alami dan natrium dapat dengan mudah larut dan tersedia bagi tanaman, namun hal ini juga membuatnya mudah hilang akibat hujan ataupun penanaman di tanah berpasir. Berbeda dengan campuran pupuk bijih mineral seperti pupuk dari campuran bebatuan colemanite dan ulexite, dimana pupuk ini melepaskan boron lebih lambat (slow release), dan lebih bisa bertahan lama di tanah dibandingkan dengan pupuk borax.

Sumber PPKS


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *