(Paris-Agritechnews.id) Cara makanan diproduksi dan dikonsumsi di seluruh dunia menimbulkan kerugian tersembunyi berupa dampak kesehatan dan kerusakan lingkungan yang mencapai sekitar 12 persen PDB dunia per tahun. Demikian menurut sebuah laporan penelitian terbaru dikutip dari AFP, Selasa (30/1).
Dalam penelitian tersebut, sebuah konsorsium ilmuwan dan ekonom menemukan bahwa transformasi sistem pangan di seluruh dunia dapat mencegah 174 juta kematian dini, membantu mengatasi perubahan iklim, dan memberikan manfaat ekonomi sebesar 5 triliun hingga 10 triliun dollar AS.
Meskipun produksi pangan intensif telah membantu memberi makan populasi global yang meningkat dua kali lipat sejak tahun 1970an, laporan tersebut menemukan bahwa hal ini menimbulkan beban yang semakin besar bagi manusia dan planet ini.
Pola makan yang buruk menyebabkan obesitas atau kekurangan gizi dan penyakit kronis yang menyertainya, sementara praktik pertanian yang mencemari mendorong pemanasan global dan hilangnya keanekaragaman hayati, sehingga mengancam potensi dampak bencana iklim yang akan berdampak buruk pada kemampuan dunia untuk memproduksi pangan.
“Kita mempunyai sistem pangan yang luar biasa,” ujar Vera Songwe, ekonom Africa Growth Initiative di Brookings Institution, bagian dari Komisi Ekonomi Sistem Pangan (FSEC), yang menyusun laporan tersebut.
“Tetapi hal ini telah menimbulkan dampak yang besar terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, dan masa depan serta perekonomian kita,” sambungnya.
Para peneliti memperkirakan total biaya yang kurang diperhitungkan dari sistem pangan mencapai 15 triliun dollar AS per tahun. Jumlah tersebut mencakup sekitar 11 triliun dollar AS setiap tahunnya yang berasal dari hilangnya produktivitas yang disebabkan oleh penyakit terkait makanan seperti diabetes, hipertensi, dan kanker.
Kerugian lingkungan diperkirakan mencapai 3 triliun dollar AS akibat penggunaan lahan pertanian dan metode produksi pangan saat ini, yang menurut para ilmuwan menyumbang sepertiga emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global.
Para penulis juga membandingkan pemodelan komputer mengenai konsekuensi pada tahun 2050 dari kelanjutan tren saat ini dan transformasi sistem pangan hipotetis.
Mereka mengatakan bahwa dengan jalur yang ada saat ini, sistem pangan saja akan mendorong pemanasan global melampaui ambang batas yang lebih ambisius dalam Kesepakatan Paris, yaitu 1,5 derajat Celcius sejak masa pra-industri.
Pemanasan global bisa mencapai angka 2,7 derajat Celsius pada tahun 2100, sementara produksi pangan akan semakin terpukul oleh perubahan iklim.
Obesitas juga akan meningkat secara global sebesar 70 persen, kata mereka, sementara sekitar 640 juta orang masih mengalami kekurangan berat badan.
Sumber AFP
