(JAKARTA, Agritechnews.Id) Kekayaaan sumber daya genetik (SDG) yang dimiliki Indonesia harus benar-benar bermanfaat bagi masyarakat. Karena itulah perlu ada pengelolaan yang baik dan tepat.
Seiring meningkatnya penggunaan varietas unggul untuk memenuhi kebutuhan produksi yang tinggi, penggunaan SDG lokal mulai terpinggirkan. Meski memiliki kelemahan, SDG lokal memiliki keunikan dan potensi yang besar, terutama sebagai sumber pangan fungsional yang bermanfaat bagi kesehatan. SDG lokal ini juga bisa menjadi sumber gen untuk perbaikan tanaman.
Penelitian terhadap SDG lokal lahan kering di Indonesia masih sangat terbatas dan biasanya hanya dilakukan dalam jangka pendek, padahal potensi SDG lokal ini sangat besar untuk mendukung ketahanan pangan.
Indonesia memiliki lahan kering yang sangat luas, mencapai sekitar 14,447 juta hektar, namun belum dikelola secara maksimal. Di Nusa Tenggara Timur (NTT) sendiri, terdapat sekitar 3,26 juta hektar lahan kering yang potensinya masih belum digarap sepenuhnya.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Tanaman Pangan ORPP, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Evert Yulianes Hosang mengatakan jika dilihat dari kondisi lahan kering di Indonesia, dari potensi luas total lahan kering di Indonesia 144,47 juta ha, sebanyak 81,8 % (118,11 juta ha) adalah lahan kering suboptima/belum terlalu baik.
Lahan itu terdiri atas 74,3 % (107,36 juta ha) = lahan kering masam dan 7,5 % (10,75 juta ha) = lahan kering beriklim kering. Daerah yang termasuk lahan kering masam antara lain Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Papua. Sedangkan yang termasuk lahan kering iklim kering adalah NTT, NTB, Bali, Sulawesi dan Maluku,tapi ada juga di Jawa dan Kalimantan.
Khusus untuk di daerah NTT memiliki luas 4,7 juta ha dan terdistribusi antar pulau yang teridiri dari Pulau Sumba: 1,105,241 ha, Pulau Timor Barat: 1,439,442 ha, Pulau Flores: 1,583,160 ha, kepulauan Rote, Sabu, Alor dan Lambata: 593,739 ha, sehingga total luas lahan kering di NTT 3,26 juta ha (69,4 %).
Beberapa jenis SDG lokal tanaman pangan yang sering dikembangkan di NTT pada dataran rendah antara lain jagung, padi gogo, sorgum, kacang nasi, kacang gude, ubi kayu, kacang hijau, dan kacang tanah. Sementara pada datatan tinggi SDG lokal yang dikembangkan diantaranya padi gogo, jagung, jewawut, jali, kacang merah, kacang parang, ubi jalar, dan gembil.
“Sejarah berjalannya penelitian di NTT, kami telah melaksanakan penelitian SDG lokal sejak sebelum tahun 2023 saat kami bersama-sama Kementerian Pertanian. Kami sudah melakukan karakterisasi cukup banyak SDG lokal di NTT dan juga melakukan pendaftaran dan pelepasan varietas, tetapi masih terbatas pada karakterisasi dalam rangka pendaftaran varietas,” ujar Hosang.

Hosang menjelaskan pula bahwa pada tahun 2023 timnya melakukan survey dan identifikasi salah satu komoditas sorgum lokal dan karakterisasi jagung putih lokal TTS di kabupaten Sabu di Pulau Raijua. Pada tahun 2024 juga melakukan pengolahan sorgum untuk pembuatan beras, tepung dan nira sorgum, serta peningkatan produksi jagung putih lokal TTS dengan menggunakan Biochar.
Yang menjadi dasar dilakukan penelitan sorgum lokal di NTT antara lain karena sorgum banyak dikembangkan di lahan kering di NTT seperti Pulau Sabu, Pulau Raijua, Pulau Rote, Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Flores Timur dan Pulau Timor pada umumnya. Keberadaannya masih belum dimanfaatkan secara maksimal karena tanaman ini masih ditanam tanpa perawatan yang optimal. Sorgum masih ditanam dan dikonsumsi langsung menjadi beras padahal memiliki potensi besar, serta pada beberapa daerah sentra produksi, variasi genetik/jenis sorgumnya sudah semakin berkurang.
Dirinya juga menjelaskan bahwa topik penelitian sorgum ke depannya adalah peningkatan produktivitas sorgum lokal dan nutrisi penting (population improvement, mutasi gen atau pembentukan hibrida), perbaikan managemen budidaya (kesuburan tanah, penggunaan Biochar pembenah tanah, pengendalian hama burung), dan penanganan pasca panen (teknologi penyimpanan, peningkatan nilai gizi, dan lain-lain).
Sumber : BRIN