{"id":490,"date":"2024-01-07T16:13:37","date_gmt":"2024-01-07T16:13:37","guid":{"rendered":"https:\/\/agritechnews.id\/?p=490"},"modified":"2024-01-07T07:14:51","modified_gmt":"2024-01-07T07:14:51","slug":"senyawa-metabolit-sekunder-pengganti-pestisida-kimia-sintetik-melawan-opt","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/agritechnews.id\/index.php\/2024\/01\/07\/senyawa-metabolit-sekunder-pengganti-pestisida-kimia-sintetik-melawan-opt\/","title":{"rendered":"Senyawa Metabolit Sekunder Pengganti Pestisida Kimia Sintetik Melawan OPT"},"content":{"rendered":"\n<p>(Jakarta-Agritechnews.id) Penggunaan pestisida kimia sintetik untuk mengatasi organisme pengganggu tanaman (OPT), baik itu hama ataupun penyakit berakibat buruk. Selain residunya mengganggu kesehatan petani juga mempengaruhi kehidupan hewan ternak dan makhluk hidup lain yang ada di sekitarnya. Sehingga perlu dipikirkan solusi untuk mencari pengendali lain lebih ramah terhadap lingkungan. Penggunaan senyawa metabolit sekunder diharapkan mampu menjadi pestisida alami.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSampai saat ini selain menggunakan varietas unggul, aplikasi pestisida kimia sintetis masih menjadi andalan untuk menyelamatkan hasil panen dari serangan OPT. Sejalan dengan bergulirnya waktu dan perkembangan ilmu pengetahuan, penggunaan senyawa metabolit sekunder sebagai bahan aktif hayati untuk melawan OPT dapat menjadi alternatif. Meskipun bukan metode baru, riset terobosan untuk meningkatkan efektifitas senyawa metabolit sekunder perlu dikembangkan,\u201d ucap Tri Puji Priyatno sPlh. Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).<\/p>\n\n\n\n<p>Kondisi tersebut menjadi tantangan riset kedepan, sebagai alternatif solusi untuk mencari pestisida alami yang lebih aman dan seefektif pestisida kimia sintetis, sehingga dapat menciptakan sistem pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dwinita Wikan Utami selaku Kepala Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan (PRHP) mengungkapkan, saat ini pasar komoditas pertanian semakin peduli terhadap dampak pestisida. Konsumen semakin peduli dengan kesehatan, sehingga mencari produk yang bebas dari residu pestisida kimia sintetis dan ramah lingkungan.<\/p>\n\n\n\n<p>Wiratno, Peneliti PRHP BRIN menjelaskan, pengendalian OPT secara alami dapat dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami OPT dan senyawa metabolit sekunder hayati. Pemanfaatan musuh alami sebagai agen pengendali OPT kurang begitu diminati petani karena dampaknya tidak dapat segera dirasakan dan umumnya tingkat efektifitasnya masih rendah.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPemanfaatan senyawa metabolit sekunder sebagai bahan aktif pestisida alami dipercaya ampuh melawan OPT disamping memiliki beberapa keuntungan di antaranya tidak meninggalkan residu yang dapat mengganggu kesehatan petani, tidak menimbulkan resistensi hama, relatif aman terhadap makhluk hidup bukan sasaran, serta tidak akan mencemari lingkungan walau digunakan dalam jangka Panjang,\u201d&nbsp; jelas Wiratno.<\/p>\n\n\n\n<p>Berdasarkan hasil riset, diketahui bahwa pestisida nabati selain mampu mengendalikan serangan OPT juga dapat memperbaiki pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman. Penggunaan pestisida nabati pada tanaman padi meningkatkan panjang dan massa akar dan jumlah anakan produktif, serta memperpendek umur tanaman hingga 14 hari dan produksi gabah meningkat hingga 20 persen bahkan lebih.<\/p>\n\n\n\n<p>Pestisida nabati sangat cocok dipergunakan pada pertanian organik dimana masalah utama yang dihadapi adalah produktifitas tanaman yang kurang optimal. Kondisi ini adalah bukti nyata, bahwa pemanfaatan sumber daya alam dapat mendukung swasembada pangan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaat ini tantangan terbesar adalah meyakinkan kepada petani bahwa penggunaan pestisida nabati dapat mensubstitusi penggunaan pestisida kimia sintetik. Salah satu hasil riset kami, yaitu pestisida Bioprotektor telah diuji dapat mengendalikan berbagai OPT penting tanaman pertanian karena dapat berfungsi sebagai <em>insektisida, nematisida, fungisida, akarisida <\/em>dan <em>moluscicida<\/em>. Walau banyak petani yang telah mencoba dan merasakan manfaatnya, ternyata petani masih belum mau beralih dari pestisida kimia sintetis,\u201d ungkap Wiratno.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya Petani belum merasa puas bila tidak mencampur lebih dari 2 bahkan sampai 4 jenis pestisida sintetis untuk mengendalikan OPT di pertanamannya. Hal ini menjadi tantangan tersendiri sehingga diperlukan upaya sosialisasi yang lebih intensif dan berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaat ini kami sedang mengurus ijin edar pestisida nabati Rajam 65 EC yang memiliki keampuhan di atas BioProtektor. Semoga pestisida ini dapat segera tersedia di pasaran sehingga petani bisa segera memanfaatkannya,\u201d jelasnya. <\/p>\n\n\n\n<p>Sumber BRIN<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Jakarta-Agritechnews.id) Penggunaan pestisida kimia sintetik untuk mengatasi organisme pengganggu tanaman (OPT), baik itu hama ataupun penyakit berakibat buruk. Selain residunya mengganggu kesehatan petani juga mempengaruhi kehidupan hewan ternak dan makhluk hidup lain yang ada di sekitarnya. Sehingga perlu dipikirkan solusi untuk mencari pengendali lain lebih ramah terhadap lingkungan. Penggunaan senyawa metabolit sekunder diharapkan mampu menjadi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":491,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[169,251,170,214,168],"tags":[262,261,259,263,260,254,255,258,264,257,252,256,81,253],"class_list":["post-490","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bisnis","category-hortikultura","category-pangan","category-perkebunan","category-tanaman-pangan","tag-akarisida","tag-fungisida","tag-insektisida","tag-moluscicida","tag-nematisida","tag-opt","tag-organisme-pengganggu-tanaman","tag-pengendalian-opt-alami","tag-pertanian-organik","tag-pestisida-kimia-sintetik","tag-pestisida-nabati","tag-pestisida-sintetis","tag-petani","tag-rajam-65"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/agritechnews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/490"}],"collection":[{"href":"https:\/\/agritechnews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/agritechnews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/agritechnews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/agritechnews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=490"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/agritechnews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/490\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":492,"href":"https:\/\/agritechnews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/490\/revisions\/492"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/agritechnews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/491"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/agritechnews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=490"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/agritechnews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=490"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/agritechnews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=490"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}