{"id":792,"date":"2024-10-01T16:34:52","date_gmt":"2024-10-01T09:34:52","guid":{"rendered":"https:\/\/agritechnews.id\/?p=792"},"modified":"2024-10-01T16:34:53","modified_gmt":"2024-10-01T09:34:53","slug":"pln-kembangkan-ekosistem-biomassa-ubah-lahan-kritis-menjadi-produktif","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/agritechnews.id\/index.php\/2024\/10\/01\/pln-kembangkan-ekosistem-biomassa-ubah-lahan-kritis-menjadi-produktif\/","title":{"rendered":"PLN Kembangkan Ekosistem Biomassa Ubah Lahan Kritis menjadi Produktif"},"content":{"rendered":"\n<p>(JAKARTA, Agritechnews.Id) Pengembangan&nbsp; ekositem biomassa berbasis petanian terpadu yang dilakukan PT PLN (Persero) mengubah lahan yang sebelumnya kritis menjadi hijau dan produktif. &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Sub holding PT PLN Energi Primer Indonesia yang melakukan upaya tersebut &nbsp;memanfaatkan 1,7 juta hektare (ha) dari 14 juta hektare lahan kritis yang tersebar di seluruh &nbsp;tanah air.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"275\" height=\"183\" src=\"https:\/\/agritechnews.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/Biomassa.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-793\" style=\"width:518px;height:auto\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p>Wakil Menteri Pertanian Republik Indonesia, Sudaryono, mengapresiasi langkah PLN dalam mendorong program biomassa dengan memanfaatkan lahan kritis. Program tersebut berkolaborasi dengan Kementerian Pertanian, Pemerintah Daerah, dan kelompok masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya mengapresiasi langkah PLN dengan program ini. Kita dihadapkan pada tantangan perubahan iklim. Saya sangat menghargai karena dengan diwajibkan (program ini) maka sumber biomassa akan berasal dari tanah marjinal,\u201d ujar Sudaryono pekan lalu&nbsp; dalam Peresmian Pengembangan Ekosistem Biomassa Berbasis Ekonomi Kerakyatan dan Pertanian Terpadu di Tasikmalaya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dia menambahkan, tanah marjinal umumnya merupakan tanah yang sulit ditanami tanaman dan berlokasi di pelosok-pelosok tanah air. Program biomassa PLN pun menjadi salah satu bukti nyata kehadiran pemerintah hingga daerah pelosok.<\/p>\n\n\n\n<p>Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menjelaskan bahwa pihaknya memanfaatkan lahan kritis yang berkolaborasi dengan Kementerian Pertanian, Pemerintah Daerah, dan Kelompok Masyarakat. \u201cMelalui program kolaboratif ini, kami berupaya mengubah lahan yang sebelumnya kering dan tidak produktif menjadi lebih hijau dan produktif,\u201d ujar Darmawan.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, terdapat 14 juta ha lahan kritis di seluruh tanah air. Dengan mengembangkan ekosistem biomassa berbasis pertanian terpadu, program ini dapat turut berkontribusi dalam upaya pemanfaatan lahan kritis.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKami akan memanfaatkan lahan kritis dengan luas total 1,7 juta hektare yang tersebar di seluruh tanah air. Sehingga mampu berkontribusi dalam upaya penurunan emisi sebesar 11 juta ton CO2e melalui co-firing biomassa,\u201d sambung Darmawan.<\/p>\n\n\n\n<p>Program biomassa mampu meningkatkan kapasitas nasional dengan menghadirkan lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan daerah, menggerakkan ekonomi kerakyatan sirkuler dan mengentaskan kemiskinan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sumber: Kementan RI<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(JAKARTA, Agritechnews.Id) Pengembangan&nbsp; ekositem biomassa berbasis petanian terpadu yang dilakukan PT PLN (Persero) mengubah lahan yang sebelumnya kritis menjadi hijau dan produktif. &nbsp; Sub holding PT PLN Energi Primer Indonesia yang melakukan upaya tersebut &nbsp;memanfaatkan 1,7 juta hektare (ha) dari 14 juta hektare lahan kritis yang tersebar di seluruh &nbsp;tanah air. Wakil Menteri Pertanian Republik [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[169,170,238,214,331,249,168,167],"tags":[492,190,493],"class_list":["post-792","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-bisnis","category-pangan","category-perikanan","category-perkebunan","category-pertanian","category-peternakan","category-tanaman-pangan","category-teknologi","tag-biomassa","tag-kementan","tag-lahankritis"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/agritechnews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/792"}],"collection":[{"href":"https:\/\/agritechnews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/agritechnews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/agritechnews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/agritechnews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=792"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/agritechnews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/792\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":794,"href":"https:\/\/agritechnews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/792\/revisions\/794"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/agritechnews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=792"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/agritechnews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=792"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/agritechnews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=792"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}